“Semuanya tolong diam!!”,suaranya sangat keras sehingga membuat orang-orang yang berada di ruangan itu langsung menutup mulut mereka.
“Ini bukanlah sebuah tontonan!Sebaiknya anda semua berada di luar ruangan ini.Aldo!”,dengan suara yang lantang dan keras dia memanggil seseorang.Tidak lama kemudian orang yang dipanggil tersebut menampakkkan diri.
“Siap,Inspektur.”,orang itu menjawab dengan suara yang tidak kalah tegas dengan inspektur itu.
“Siap.”
Tanpa basa-basi orang yang dipanggil Aldo itu langsung menyuruh orang-orang keluar dan memanggil para saksi.para saksi dikumpulkan di sebuah ruangan.disebelah TKP.
Setelah orang-orang yang berkerumun tadi mulai pergi,barulah Faris mengetahui peristiwa yang terjadi.Tidak jauh dari tempatnya berdiri,tergeletak sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa.Tubuhnya dibasahi oleh darah segar yang berasal dari kepala.Baju sosok itu berwarna hitam dan berambut panjang.
Faris hanya bisa menahan nafas sejenak setelah melihat hal itu.Kemudian ia berjalan menuju pintu keluar,namun langkahnya terhenti setelah melihat sosok wanita yang pernah dia temui sebelumnya.Ya,tidak salah lagi.
“Lho,kamu kenapa ada di sini?”,Tanya Faris.
“Oh,ternyata kamu.Aku ingin dimintai keterangan oleh pihak polisi mengenai peristiwa yang telah terjadi ini.”
“Berarti kamu melihat kejadian itu secara langsung?!”
“ya..begitulah.”
“Maaf,permisi Nona Mika.Anda sudah ditunggu untuk dimintai keterangan.Silakan ikuti saya,dan kamu sekarang cepat keluar.Area ini tertutup untuk umum.”,kata petugas itu.
“Iya pak.Saya tahu,ini juga saya mau keluar.”,jawab Faris dengan ketus.
Faris keluar menuju halaman kantor kehakiman.Namun dia masih belum pergi.Dia tertarik dengan masalah yang terjadi di dekatnya itu.Dia mulai mencari keterangan-keterangan dari orang-orang yang bekerja di kantor tersebut mengenai identitas korban.Ternyata dari orang-orang yang dimintai keterangan oleh Faris ada teman dekat korban.Kemudian Faris menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan korban kepada Bondan,begitulah dia disapa oleh teman-temannya.
“Dia adalah salah satu teman yang dekat dengan saya.Namanya adalah Eka Widiastuti.Setahu saya Eka orang yang baik,cantik,dan kemungkinan tidak mempunyai musuh.Dia bekerja sebagai seorang jaksa di kantor kehakiman ini.Sungguh disayangkan padahal karirnya sudah mulai menunjukkan hasil.”,Jelas Bondan.
“Jadi korban adalah seorang jaksa ya?Lalu apa dia sedang menangani sebuah kasus?”
“Kebetulan tidak.Tapi beberapa minggu yang lalu,dia memang sedang mengurusi sebuah kasus mengenai penggelapan barang barang oleh beberapa orang dari Bea Cukai.”
“Penggelapan barang?barang seperti apa?Lalu bagaimana hasil persidangan kasus tersebut?”
“Kalau barang,katanya dia sendiri juga belum tahu,sehngga dia meminta persidangan ditunda.Namun beberapa hari yang lalu dia mengatakan kepada saya bahwa dia sudah menemukan cukup bukti untuk memenangkan kasusnya itu.”
“Begitu ya.Apa dia memberitahumu dimana bukti itu dia simpan?”
“Tidak,dia belum sempat mengatakannya padaku.”
“Belum sempat?Maksudmu?”
“Dia berencana untuk meminta bantuanku dalam menyelesaikan kasusnya itu,namun sepertinya hal itu sudah tidak mungkin.”
“Begitu.Baiklah,terima kasih atas informasinya.”
“Sama-sama.”
Faris bermaksud untuk pergi,namun langkahnya terhenti kembali.Faris melihat Mika keluar dari kantor kehakiman.Faris langsung menghampirinya.
“Hei,bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Bagaimana tanggapan polisi mengenai kasus ini?Oh ya,ngomong-ngomong kita belum berkenalan.Namaku Faris.”
“Namaku Mika,lengkapnya Mika Pratiwi.Polisi menetapkan ini sebagai sebuah kasus bunuh diri.”
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah kursi didekat sebuah pohon.Di sana mereka mulai berbicara tentang masalah yang barusan terjadi.
“Eh,aku boleh Tanya sesuatu?”,Tanya Faris.
“Tentang apa?”
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di kantor kehakiman ini?”
“Ya,aku awalnya bermaksud untuk melamar pekerjaan di sini.Maklumlah kita yang baru lulus ini pasti menginginkan untuk cepat-cepat kerja.”
“Begitu ya.Lalu apa kau bisa menceritakan padaku tentang kejadian yang menimpa korban?”
“Ya.Saat aku masuk ke dalam kantor ini aku pertama kali bertemu dengan wanita itu,kurasa dia orang yang ramah.Penampilannya sangat rapi.Aku melihatnya sedang duduk dengan temannya membicarakan sesuatu.Lalu aku kembali fokus pada tujuanku kemari.Aku berjalan menuju meja resepsionis.Aku disuruh oleh pegawai resepsionis untuk menunggu sebentar.Kemudian aku duduk di sebuah kursi dekat tanaman.Tiba-tiba wanita itu berteriak kepada temannya.Kurasa telah terjadi sesuatu yang membuatnya begitu histeris dan kebingungan.Setelah itu dia berjalan menuju ke lantai atas,saat itu pula aku di panggil oleh pegawai resepsionis.Namun saat aku berjalan menuju meja resepsionis,aku melihat wanita tadi keluar dari sebuah ruangan di lantai atas.Tapi ada yang salah dengan dirinya,dia seperti orang mabuk.Jalannya terseok-seok,belum lagi ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang ada dalam tangan maut.Kejadian selanjutnya tidak bisa kupercaya,dia jatuh dari lantai atas dengan posisi membelakangi lantai.Lalu kau bisa memperkirakan apa yang selajutnya terjadi bukan?”
“Ya.Tapi ini sangat aneh.Padahal dia sedang menghadapi sebuah kasus yang penting.Belum lagi menurut kabar yang kudengar dari temannya,dia telah menemukan bukti yang kuat untuk memenangkan persidangan.Kenapa dia malah bunuh diri?”
“Polisi juga sudah tahu tentang hal itu dan menyelidikinya.Mereka mengatakan bahwa setelah ditanyakan kepada teman yang tadi duduk bersamanya ternyata bukti yang dimiliki oleh wanita tersebut telah hilang.Korban mengatakan hal itu sendiri kepadanya.”
“Justru itulah yang aneh.Kalau menjadi dia aku pasti akan menyimpan bukti itu ditempat yang aman dan hanya aku yang mengetahuinya.Tidak mungkin barang bukti itu hilang begitu saja?Bukankah ini sangat aneh?!”
“Bisa saja korban membawa bukti itu bersama dirinya dan bukti tersebut hilang sewaktu dia pergi.”,kata seseorang dari arah belakang mereka.
Ternyata itu adalah petugas polisi dan wajahnya tidak asing lagi.Benar petugas itu adalah Aldo.
“Oh,ternyata anda pak polisi.Kalau hal itu malah tidak mungkin lagi.Untuk apa seorang jaksa yang sedang menghadapi sebuah kasus penting,kemudian membawa kunci kemenangan yang telah aman di tempat dia menyimpannya?!Dia pasti tahu kalau itu akan merugikan dirinya sendiri.”,kata Faris kepada petugas Aldo.
“Benar juga.”
“Aku tidak mengerti,seharusnya inspektur sudah memiliki cukup petunjuk dan alasan untuk mengatakan bahwa kasus ini bukanlah kasus bunuh diri,tapi kenapa dia seperti menutupi kasus ini.”
“Bukannya menutupi,tapi kasus ini memang masih dalam penyelidikan lebih lanjut.Sebaiknya kau juga tidak usah mengurusi kasus ini.Bukankah sebaiknya kau diam di rumah dan menikmati hidupmu.”,kata Aldo.
“Kalau anda berkata seperti itu saya semakin ingin tahu rahasia di balik kasus ini.”
“Kalau begitu saya sebagai petugas polisi saya memberikan saran kepada anda untuk tidak ikut campur.Baiklah,selamat siang.”
Polisi itu langsung pergi meninggalkan Faris dan Mika berdua di bawah lindungan pohon.Matahari semakin condong ke barat.Faris masih termenung memikirkan kejadian tersebut.
“Ris,kamu masih ingin di sini?Aku ingin pulang dulu.”,kata Mika.
“Tunggu dulu.Mik,kamu ingat siapa saja saksi yang dimintai keterangan selain kamu?”,Tanya Faris.
“Ya,aku ingat.Yang pertama dimintai keterangan adalah Bapak Ismail,kedua Ibu Dina,yang ketiga adalah seorang petugas kebersihan,tapi aku lupa namanya.Kemudian keempat adalah Bapak Andi,orang yang bersama korban,dan yang terakhir aku.Memangnya ada apa?”
“Ah tidak,aku hanya ingin minta keterangan saja dari mereka.Apa kau masih ingat wajah mereka?”
“Tentu saja,kau kira aku ini orang yang pelupa.Mereka ada di seberang taman.Lihatlah orang-orang yang berkumpul itu.”,jawab Mika.
“Oh ya.Apa boleh aku minta nomor handphone kamu?”
“Untuk apa?”
“Boleh atau tidak?”
Mika memberikan nomor handphone miliknya kepada Faris.
“Kalau begitu aku punya satu permintaan kepadamu.”
“Permintaan?Apa?”
“Tolong kau minta keterangan mengenai kejadian ini dan hubungan mereka dengan korban.”
“Apa???Kenapa harus aku!?Kenapa tidak kau sendiri!?”
“Ada sesuatu yang ingin kulakukan.”
“Apa!?Kita’kan baru saja kenal.Kau tidak bisa meminta permintaan seperti itu!”
“Justru karena kita baru kenal,hal ini akan menambah akrab hubungan kita,Hehehe.Tolong ya.”,kata Faris sambil berlari meninggalkan Mika.
“Hah,ya sudahlah.Hanya meminta keterangan saja.”
Mika pergi dari tempat itu.Dia pergi menuju orang-orang yang sedang berkumpul di seberang taman.
***
Kantor kehakiman mulai sepi,hanya ada beberapa polisi yang masih melakukan penyelidikan dan berjaga-jaga.Salah satu dari mereka ada yang sedang melepas lelah di sebuah kursi di teras kantor kehakiman.Di sebelah orang tersebut tergeletak sebuah jaket hitam dan topi hitam.Keringat mengucur dari dahi polisi tersebut.Hal itu bisa dimaklumi dengan cuaca panas seperti saat ini.
Sony berjalan menuju teras kantor pengadilan.Dia melihat sekelilingnya.Kemudian dia mengambil handphone dari sakunya.Faris menekan tombol nomor sesuai dengan nomor yang telah diberikan Mika.Sambil menunggu teleponnya dijawab,dia mengamati kondisi ruangan dari TKP.
“Halo,ini siapa?”,Tanya suara dari telepon itu.
“Halo Mik,ini aku Sony.Bagaimana keterangan yang kau dapatkan?”
“Ya,kurasa lancar.Akan kubacakan keterangan yang kudapat.Pertama keterangan dari Bapak Ismail,beliau adalah teman kerja korban.Menurutnya korban adalah orang yang baik dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi suatu masalah.Beliau tidak percaya korban akan melakukan hal semacam itu.Lalu dia juga mengatakan bahwa belakangan ini korban seperti orang yang kikuk.Entah mengapa korban merasa dirinya seperti dalam cengkraman maut.Perilaku korban ini berawal pada saat korban menerima sebuah paket kiriman di kantornya.Lalu beliau mengatakan bahwa beliau sempat melihat seseorang yang berjalan ke lantai atas sesaat setelah korban naik ke lantai atas.”
“Seseorang?bagaimana ciri-cirinya?”,Tanya Faris sedikit berbisik.
“Menurut keterangan beliau,orang itu memakai sebuah topi hitam dengan jas berwarna hitam.Oh orang tersebut juga memakai sebuah masker?”
“Jas hitam,topi hitam,dan masker.”
Faris kembali teringat dengan kejadian kemarin di kampusnya.Cara berpakaian orang itu sangat mirip dengan orang yang bertabrakan dengannya di lapangan parkir.Dia termenung sejenak.Kemudian Faris berjalan menyusuri tempat di sekeliling kantor kehakiman sambil melanjutkan pembicaraannya dengan Mika.
“Apakah Pak Ismail melihat orang itu kembali turun?”,Tanya Faris.
“Tidak beliau tidak melihat orang itu turun lagi baik sebelum dan sesudah kejadian tersebut.”
Faris berhenti sejenak di pekarangan samping kantor pengadilan.Dia mengamati keadaan di sekelilingnya.
Bersambung...
(Oleh Sony Harmuji A.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar